ASAL
USUL KESENIAN KUDA LUMPING DAN SRANDUL
DUSUN BONGKOL, DESA NGALIYAN, KECAMATAN
BEJEN, KABUPATEN TEMANGGUNG, JAWA TENGAH
A. Berdirinya Tarian Kuda Lumping
Sekitar tahun 1961 ada seorang
pengembara dengan membawa istri dan anaknya yang berasal dari daerah Blawong berhenti
di daerah sekarang Desa Ngaliyan, Kecamatan Bejen tepatnya di Dusun Bongkol.
Pengembara tersebut bernama Mbah Sabari. Mbah Sabari ini disebut sebagai Pondok Blongsor, karena orang yang tidak
punya apa – apa yang tinggalnya di ujung barat Dusun Bongkol (sekarang disebut Rumah Brak).
Pada mulanya, Mbah Sabari yang seorang
pengembara dari daerah Blawong tersebut ingin menyebarkan dan mengembangkan berbagai
kesenian yang telah ia pelajari dan telah dianggap mumpuni oleh masyarakat
disekitarnya. Semakin lama, ia dikenal baik oleh masyarakat Dusun Bongkol yang
kemudian mengajak lima orang sebagai sesepuh Dusun Bongkol pada saat itu untuk
bermusyawarah. Musyawarah menghasilkan kesepakatan untuk membuat kesenian. Awal
kesenian yang mereka ajarkan oleh masyarakat Dusun Bongkol adalah kesenian yang
diberi nama Jaran Kepang dengan tiga
alat musik pertama yang masih sederhana, yaitu angklung, kendang, dan gong
bumbung sebagai masa awal perkembangan kesenian.
Kita sebagai masyarakat jawa tidak asing
lagi dengan kata Jaran Kepang. Secara harfiah kata Jaran kepang berasal dari
kata jaran yang berarti kuda dan kepang berarti dianyam, biasanya
anyamannya terbuat dari bambu. Jadi, jaran kepang atau kuda lumping adalah
kuda yang terbuat dari anyaman yang pada tariannya kuda tersebut seperti
ditunggangi oleh penarinya dan biasanya menceritakan kepahlawanan, perjuangan,
dan hakikat seorang jati diri manusia.
B. Berdirinya Tarian Srandul
Dengan
semakin majunya tarian kuda lumping, selanjutnya mereka membuat tarian yang
disebut Srandul. Dahulu sebelum agama
nasrani masuk, Srandul berati menceritakan agama Islam
yang semua pengambilannya dari ajaran – ajaran Islam. Pada intinya,
Srandul yang menggunakan ajaran Islam tersebut dinamakan Srandul Gatholoco. Semua
nyanyian menyebut nama Tuhan (ela elo
haellola). Dengan kemajuan tarian tersebut maka diputuskan kemudian hari
bahwa Srandul ditampilkan malam hari dengan Senthir
sebagai penerang utama dan kuda lumping ditampilkan pada siang harinya.
Srandul
merupakan puncak dari tarian atau acara kegiatan pentas. Pada bagian ini, di
dalamnya terdapat urutan tarian – tarian yang pada akhirnya menceritakan tentang
pertanian. Urutan Srandul tersebut ialah :
1. Manuk
– manuk
2. Kulak
manuk
3. Kembang
4. Simbar
5. Laler
( badut kembar, pemain dua orang )
6. Simak
7. Bayungan
( badut kembar, pemain dua orang )
8. Lenggeran
( pemain perempuan )
9. Cepuk
( sebagai semua puncak tarian sekaligus
pelawak )
10. Lengger
menari dengan cepuk
11. Cepuk
ditinggal lengger karena cepuk berbohong tidak membayar lengger menari
12. Lengger
membawa pergi pakaian cepuk
13. Cepuk
( kesedihan Cepuk )
14. Perawan
Sunthi ( kisah Srandul sebenarnya )
15. Masa
pertanian (kisah cepuk sebagai orang yang
mengabdi untuk membantu masyarakat dalam bertani, dari awal pertanian sampai
dengan akhir masa pertanian).
Jadi,
semua adegan tarian Srandul terbagi atas 15 tarian dengan 8 tarian awal disebut
sebagai Badut Ngarep ( Badut Depan ).
C.
Hubungan
Kiai Cepuk dengan Tarian Cepuk
Di sini ada
cerita yang menarik untuk disimak sejarah dari kata Cepuk yang dipakai dalam
puncak kesenian di Dusun Bongkol ini. Bagaimana hubungan antara kesenian
Srandul dengan kata Cepuk ? Kisahnya demikian. Menurut penututuran Mbah Rejo
Sampur yang merupakan salah satu dari sesepuh Dusun Bongkol, tarian Cepuk
dikerjakan dan mulai dipakai dalam tarian Srandul sekitar tahun 1964 – an.
Pada tahun 1964 – an, ada seorang bernama Sastro
Suhari yang menjual tanahnya kepada seseorang yang berasal dari daerah
Wonosari, Gunungkidul, Sastro Sutiman namanya. Pada beberapa hari berikutnya
tanah yang berwujud sawah menjadi milik Sastro Sutiman. Kemudian keseluruhan
tanahnya akan di lebur. Ternyata, tanpa sepengetahuan dari Sastro Sutiman,
tanah yang akan ia lebur terdapat sebuah makam yang sangat sederhana dan belum
di cungkup.
Karena makam yang akan ia lebur adalah makam seorang
pepunden desa dan seorang kiai, ia
kemudian melakukan ziarah untuk nyekar (memberi
bunga dan berdoa) setiap hari supaya makam tersebut memperoleh izin untuk
dilebur.
Suatu hari, sang empunya tanah tersebut nekat untuk
melakukan peleburan makam beserta tanah disekitarnya. Peristiwa aneh pun
terjadi. Terjadi pageblug (kejadian akibat dari kesalahan) yang berkepanjangan
sehingga membuat masyarakat resah akibat dari makam yang dilebur tersebut.
Banyak orang yang meninggal tanpa sebab, angin yang dirasakan terasa aneh,
sehingga membuat banyak orang di masyarakat Dusun Bongkol harus siap siaga
untuk menghindari kejadian yang lebih buruk dari peristiwa tersebut. Kejadian –
kejadian aneh tersebut tak kunjung berhenti dan kebetulan Kepala Dusun Bongkol
saat itu yang bernama Atmo Raban mengadakan kesenian Kuda Lumping dan Srandul.
Peristiwa
yang terjadi pada sore hari saat kesenian tersebut di tampilkan ialah ada
seorang warga yang berasal dari Boja (wilayah
Kendal sekarang), Sodikoro, dirasuki oleh roh dari pepunden desa. Pepunden
desa tersebut ternyata Mbah atau Kiai Cepuk, biasa disebutnya. Ia secara
gamblang berdialog seperti orang biasa dan salah satunya yang paling mengesan
ia berkata, “omahku yen udan kudanan, yen
panas kepanasen“ dengan sedikit nada serak. Perkataan tersebut yang berarti rumahku jika hujan kehujanan,
jika panas kepanasan. Secara nyata mengandung sebuah pesan yang pada intinya
karena ia sudah menjaga dan memelihara segala yang ada dari bermacam – macam
bahaya, ia meminta kepada masyarakat supaya makamnya jangan dilebur akan tetapi
buatkanlah cungkup dan kijing yang layak. Ia juga berpesan supaya segala
kesenian yang ada janganlah berhenti akan tetapi dilestarikan, yang kemudian ia
akan membantu dalam memelihara dan menjaga kesenian yang telah dikembangkan
tersebut.
D. Keputusan Akhir
Malam
harinya, para sesepuh dusun melakukan rapat. Rapat dihadiri oleh 5 orang, ialah
(alm) Atmo Wiyono, (alm) Parto Karmani, (alm) Karto Jamin, (alm) Merto Parman, dan Rejo Sampur. Rapat tersebut menghasilkan
keputusan diantaranya :
a. masyarakat
akan mendirikan cungkup dan kijing di atas makam Kiai Cepuk (dana dari seseorang yang berasal dari
daerah Weleri ),
b. mengadakan Sadranan setiap 1 Suro.
Sejak saat itu
situasi kembali normal. Masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Mbah
Rejo, biasa ia disebut, yang juga salah satu dari keturunan Mbah Cepuk
menuturkan bahwa dari saat itulah, masyarakat mengetahui yang ternyata tarian
yang bernama Cepuk adalah sebuah kata kebetulan (jayus). Artinya, sebelum masyarakat tahu – menahu tentang adanya
Mbah Cepuk (makam), tarian Cepuk
sudah ada terlebih dahulu. Lambat laun kemajuan dari kesenian rakyat membuat
para pemain dan masyarakat dari Dusun Bongkol ini membuat paguyuban kesenian
yang bernama Paguyuban Merti Budaya.
Akan tetapi,
zaman semakin maju. Banyak anak muda sudah mulai meninggalkan kesenian ini
sehingga segala sesuatu menjadi usang. Gamelan yang ada sekarang sudah mulai
tidak terawat dan berkarat. Pakaian – pakaian untuk pentas pun sudah mulai
berkurang karena termakan usia. Maka dari itu, atas inisiatif Mbah Rejo sendiri
ingin kembali menggerakkan kesenian rakyat tersebut supaya tidak ditinggalkan
karena kemajuan zaman yang disebut era – nya teknologi dan pengaruh asing terjadi secara cepat.
Manusia adalah
makhluk sosial serta semangat gotong – royong merupakan ciri khas dari
masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, dengan kata – kata tersebut bantuan –
bantuan yang berupa materi dari berbagai pihak terutama dari Pemerintah Daerah
Kabupaten Temanggung sangat kami harapkan dan sangat kami butuhkan untuk
kemajuan kesenian tersebut dan supaya kesenian rakyat ini kembali hidup.
Kemajuan yang ada merupakan kemajuan kita semua. Semoga bantuan – bantuan yang
telah Saudara/i berikan kepada kami dapat diolah dan digunakan sebagaimana mestinya untuk memajukan, melestarikan dan menghidupkan kembali kesenian rakyat
ini yang secara tidak langsung juga untuk kemajuan bangsa ini yang kaya akan
unsur budayanya. Semoga amal ibadah yang Saudara/i berikan dapat berkenan di
hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
BILA ANDA INGIN MEMBERIKAN AMAL KASIH BAGI KESENIAN KAMI, SILAHKAN KE
REKENING BRI : 591301001823506 atau
HUBUNGI : 087700120431 BAPAK REJO SAMPUR
Pancasila dasar negara kita
Hidup kita punya
harapan kasih
Semboyan yang sangat
berharga








Sejarah Cepuk yang mulai pudar
ReplyDelete